PUSTAKA NAYOTTAMA PUBLISHING  |  Komunitas Riset Massa & Kearifan Lokal, Sosial Budaya & Pencatatan Sejarah & Publikator Indonesia

 





I WAYAN SWASTIKA

 

MELEBUR TAKDIR

DENGAN TEKAD

 

Hidup dalam pasungan kemiskinan, kekurangan dan keterbatasan kadang hanya tinggal menyisakan keputusasaan dan pupusnya harapan bagi seseorang untuk menatap datangnya masa depan.

Banyak orang yang kemudian pasrah dan menyerah pada nasib atas takdir hidupnya yang dilahirkan di tengah nafas kemlaratan.

Namun sekelumit kisah dari relung desa Intaran, Sanur ini akan mengugah pandangan hati kita betapa belenggu kemiskinan ternyata tak mampu memupus tekad seorang I Wayan Swastika untuk dapat mencicipi manisnya kehidupan dikemudian harinya.

Swastika memang tidak pernah meminta, di tahun 1952 ia dilahirkan dari rahim Made Singkrek yang hanya penjual bunga dan sayuran di pasar Intaran demi mengharapkan sedikit hasil untuk mengepulkan asap dapur bagi kehidupannya.

Swastika pun tidak pernah meratapi bila ternyata I Made Toko ayahnya hanyalah juga seorang petani tanah garapan yang penghasilannya sungguh tak menentu karena hanya mengandalkan keberhasilan hasil panen di atas bidang lahan yang tak seberapa.

Semua keterbatasan itu rupanya telah menjadi satu kesatuan situasi yang mau tidak mau harus Swastika jalani di sepanjang masa kecilnya dengan penuh mawas diri dan keiklasan.

Sejak kecil Swastika yang baru duduk dibangku kelas V Sekolah Dasar itu rupanya sudah terbiasa menggantikan sang ibu yang kerap sakit karena mengidap Asma untuk berjualan di pasar Intaran Sanur.

Hanya dialah satu-satunya tumpuan keluarga bila ibunya sedang sakit dan tak bisa bekerja, padahal hanya dari hasil berdagang di pasarlah, ia, ayah, ibu dan adiknya dapat menikmati makanan sekedar untuk mengganjal rasa lapar.

Maka mawaslah sudah batin Swastika untuk bangun dari tidurnya di pagi buta dan bergegas menelusuri rerimbuan pepohonan mencari bunga sekedar untuk melengkapi dagangan ibunya yang akan dijualnya di pasar.

Tidak ada pilihan lain bagi Swastika selain harus tergopoh-gopoh sendiri membuka lapak di pasar sambil berusaha cermat mengatur waktu.

Ia harus punya perhitungan waktu untuk menggelar dan menunggui dagangannya hingga memperoleh uang yang cukup sebelum menjelang waktu berangkat sekolah tiba.

Sepulang sekolah, Swastika sudah terlihat sibuk mencabuti belukar yang tumbuh di antara tanaman padi atau terkadang mengatur pengairan ataupun pekerjaan apa saja yang ada di ladang persawahan ayahnya. 

Namun meski telah demikian keras usaha Swastika membantu orang tua, tetap saja, kemiskinan itu seolah demikian lekat di kehidupan keluarganya, bahkan untuk membayar uang sekolah bulananpun dirasa masih sangat sulit untuk dapat dipenuhi.

Begitu berat beban hidup di kala itu, semuanya harus Swastika pahami kendati usianya masih terlalu dini untuk mengerti arti dari perjuangan hidup itu sendiri.

Bahkan pernah suatu hari, Swastika seketika dihardik ayahya hanya karena meminta tas sekolah baru untuk menggantikan tas usangnya.

Ia tak habis berfikir mengapa keinginannya memiliki tas sekolah baru itu harus berakhir dengan derai air mata karena murka sang ayah  padanya.

Sejak saat itu, Swastika kecil sungguh hanya berani menyimpan segala keinginannya jauh-jauh di dalam hatinya, ia seolah sadar betapa kemiskinan telah memasung bibirnya untuk tidak mengutarakan apa yang ia inginkan dan terlebih lagi merengek pada ayah ibunya untuk menuruti apa yang ia inginkan.

Maka tak heran bila kemudian, Swastika yang telah duduk di bangku SLTP ini tidak pernah membuang waktu luang begitu saja dan memanfaatkannya untuk dapat memperoleh uang demi memenuhi keinginannya.

Setelah menyelesaikan tugas dari membantu ayah di sawah dan menyabit rumput untuk makan sapi-sapi kakeknya, Swastika dengan sigap telah terlihat tekun menyabit rumput di salah satu petak lahan milik seseorang yang mengupahnya untuk sedikit uang bagi setiap petak lahan seluas 700 m2 yang berhasil diselesaikannya.

Dan baru kemudian dari uang hasil keringatnya inilah, Swastika dapat membeli bakso, bubur kacang hijau, pensil, buku atau sekedar jajanan yang ia inginkan.

Rajin bekerja, tekun belajar dan sekolah adalah keharusan bagi Swastika.

Kendati sekolah dengan memakai pakaian bekas ayahnya dan harus digulung pada kedua lengannya karena kebesaran, namun Swastika tidak pernah berkecil hati dan tetap rajin mengikuti sekolah hingga berhasil lulus SLTP di SLUB Saraswati Denpasar.

Selepas SLTP,  habis sudah kesempatan Swastika untuk dapat melanjutkan sekolah. Biaya tidak ada dan jelas tidak mungkin ia memaksakan untuk sekolah dan menambah beban hidup ayah ibunya.

Maka dengan mawas diri jugalah, Wayan Swastika mulai mencoba mencari pekerjaan dan berkat bantuan pamannya yang bekerja sebagai pembantu di rumah pemilik PT.Golden Bali Tour lah, Wayan Swastika kemudian dapat bekerja sebagai Office Boy di perusahaan jasa pariwisata itu.

Sebagai umunya office boy, Swastika patuh menjalankan tugasnya mulai dari membersihkan seluruh kantor, menyediakan minum bagi para karyawan hingga menjadi pesuruh ataupun kurir kantor.

Pekerjaan ini dijalani dan disyukurinya, namun walau demikian, rupanya Swastika juga jeli melihat adanya peluang untuk dapat meningkatkan posisinya.

Peluang itu dilihatnya ketika kantor Golden Bali Tour selalu saja kekurangan tenaga guide (pramuwisata) berbahasa Spanyol.

Tanpa ragu lagi, Wayan Swastika mulai mengikuti kursus bahasa Inggris dan Spanyol di jalan Gadung Denpasar.

Dan benar saja, setelah beberpa lama mengikuti kursus bahasa asing, kesempatan akhirnya datang juga menghampiri Swastika, ia kemudian dipercaya untuk mengawal tamu asing manakala Golden Bali Tour sedang kekurangan tenaga guide.

Lama kelamaan, kesempatan mengawal tamu sebagai guide inipun sering dipercayakan kepada Swastika yang tentu saja semakin hari kemampuan bahasa Spanyolnya semakin membaik.

Di sinilah semua itu bermula, lambat laun kemiskinanpun mulai menjauh dari kehidupan Wayan Swastika, bahkan setelah mulai sibuk dengan kegiatannya sebagai pramuwisata, iapun juga dengan berani melepas masa lajangnya dengan mempersunting  Ni Made Wari gadis Bali yang mencuri hatinya sejak ia bekerja di PT. Golden Bali Tour.

Rupanya pernikahannya dengan Ni Made Wari menjadi bintang terang bagi kehidupan Wayan Swastika. Sejak saat itu kesibukannya sebagai guide mulai semakin memadati hari-harinya, bahkan ia juga telah dipercaya untuk menangani group wisatawan dari Spanyol.

Semakin lama kualitas Wayan Swastika sebagai guide Spanyol pun sudah tidak dapat diragukan lagi, selain matang dalam pengalaman ia juga dikenal sebagai sosok yang jujur, tekun dan bertanggung jawab.

Oleh sebab itulah, kendati PT. Golden Bali Tour tempatnya bekerja kemudian tutup, namun Wayan Swastika tetap tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk melanjutkan profesinya sebagai guide lepas bagi travel-travel yang membutuhkan guide berbahasa Spanyol di samping terkadang Swastika juga siap menjadi sopir dengan mobil merk Toyota Crown yang dibelinya untuk mengantar para tamu berwisata.

Kepiawaian Wayan Swastika menangani tamu Sitmar Cruise dari Australia itupun akhirnya di dengar oleh Anak Agung Raka pimpinan Creative Tour & travel yang saat itu sedang akan menangani kedatangan wisatawan group Cruise dari Australia yang jumlahnya tidak kurang dari 800 orang wisatawan.

Dan karena itu kemudian Wayan Swastikalah yang dipercaya untuk menangani penuh sebagai koordinator langsung perjalanan wisata group Australia ini dari mulai mempersiapkan kedatangannya, berikut kelengkapan surat-surat legalitas yang diperlukan sampai dengan wisata dan kepulangan para wisatawan ke Australia.

Sukses menangani group Australia ini, nama Swastika mulai banyak didengar oleh travel-travel agent, sehingga iapun tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan kepercayaan bekerja sebagai guide lepas di beberapa travel agent di Bali, yang juga salah satunya pada PT. Dewi Tour milik John Ketut Pantja yang memberi kepercayaan Swastika sebagai Guide lepas khusus tamu-tamu berbahasa Spanyol.

Namun baru beberapa tahun aktif bekerja sebagai guide lepas di Dewi Tour, oleh karena suatu sebab akhirnya perusahaan inipun tutup sehingga akhirnya Wayan Swastika kemudian melanjutkan profesinya dengan bergabung sebagai guide lepas di beberapa travel agent terkemuka seperti, Nitour, Natrabu, Satriavi dan Nustra.

Saat menjadi guide di Nustra lah, Swastika berkesempatan bertemu dengan ‘Mundo Facil, SA’, salah seorang pucuk pimpinan pemilik travel agent di Spanyol yang selama ini mengirim tamu-tamu yang ditanganinya di Bali.

Dari Mundo Facil inilah kemudian diketehui bahwa agent di Spanyol bermaksud memindahkan tamunya dari Nustra Tour ke travel agent yang lain di Bali.

Namun pihak Mundo Facil menghendaki penanganan tamu Spanyol itu harus di bawah koordinasi Wayan Swatika.

Oleh sebab itulah, Swastika kemudian meminta waktu selama sehari kepada Mundo Facil untuk mencarikan travel agent pengganti di mana ia dapat ditugaskan menangani penuh tamu-tamu dari Mundo Facil.

Akhirnya setelah melalui negosiasi dengan beberapa travel agent, Swastika menjatuhkan pilihan pada Golden Kris Tour sebagai rekanannya.

Dan keesokan harinya, Swastika memenuhi janjinya memperkenalkan Golden Kris Tour sebagai travel agent kepada Mundo Facil di mana ia terlibat langsung menangani tamunya dari Spanyol.

Setahun kemudian, karena beberapa bertimbangan, Wayan Swastika pun memilih memindahkan  tamu Spanyol dari Mundo Facil yang semula menggunakan bendera Golden Kris Tour ke Travel Agent yang lain.

Dan dalam kurun masa itu muncul kebijakan dari pihak Spanyol untuk memberikan harga group bagi para tamu individu yang berdampak peningkatan luar biasa kedatangan tamu non group dari Spanyol.

Dengan demikian Swastika pun menjadi bekerja extra keras dan sampai akhirnya iapun jatuh sakit dan mau tidak mau harus mulai berpikir untuk membagi tanggung jawabnya kepada beberapa teman guide yang tentu juga sudah ia kenal kualitasnya.

Saat-saat menjalani istirahat dari sakitnya inilah terbersit keinginan Wayan Swastika untuk mendirikan perusahaan Travel Agent sendiri.

Maka setelah melalui perhitungan yang cukup matang pada tanggal  13 Oktober 1988, dibukalah PT. Bali Santika Tour dengan menggandeng Ketut Sarya sebagai mitra dalam perusahaan wisata ini.

Memasuki bulan Juni 1992, Ketut Sarya menjual kepemilikan sahamnya di PT. Bali Santika Tour pada Ketut Ardana, SH, namun dua tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 9 Juli 1994, Ketut Ardana, SH melepas seluruh sahamnya dan dibeli penuh oleh Wayan Swastika.

Tidak ubahnya perusahaan lainnya yang baru lahir, Bali Santika Tour pun tidak lepas dari pasang surut laju dunia bisnis pariwisata.

Namun berkat pengalaman dan kesabaran Wayan Swastika, akhirnya memasuki tahun 1996, Bali Santika Tour mulai memancarkan sinar kejayaannya.

Bahkan beberapa perusahaan  perjalanan wisata di Spanyol termasuk yang terbesar di sana turut mempercayakan para tamunya dalam penanganan Bali Santika Tour di bawah pimpinan Wayan Swastika.

Akan tetapi kesuksesan Bali Santika Tour ini bukan akhir dari kisah keberhasilan seorang Wayan Swastika dalam melebur takdir kemiskinan yang memasung keluarganya.

Justru ini adalah awal dari kesuksesan buah dari kerja keras, ketekunan, kejujuran dan ketulusan hati yang dilakoninya dalam hidup ini.

Dan dari Bali Santika Tourlah kemudian Wayan Swastika dapat membangun sebuah resort berbintang 3 di pusat kota Ubud yang diberinya nama Samhita Garden yang banyak menyisakan kepuasan bagi para tamunya yang merasa seolah berada dan dilayani dalam hotel berkualitas sekelas bintang 4.

 

Samhita Garden Resort

 

Demikianlah sekelumit bukti bahwa dengan tekad dan kemauan keras, seseorang seperti halnya Wayan Swastika yang lahir dan dibesarkan dengan berbagai kekurangan dapat merubah nasibnya dan menjadikan hidupnya lebih berarti bahkan melebihi dari apa yang pernah ia khayalkan sebelumnya.

 

 

family picture




DATA PRIBADI

 

Nama                 :  I Wayan Swastika

Tempat/

Tanggal Lahir   :  Desa Intaran, 31 Desember 1952

Agama               :  Hindu

Profesi               :  Pengusaha

-  PT. Bali Santika Tour & Travel

-  Samhita Garden Resort

Menikah            :  Juni 1973

Nama Istri         :  Ni Made  Wari

Jumlah Anak    :  2 Orang

Hobby                 :  Membaca

Semboyan        :  Hidup sederhana

Pesan                 :   Generasi muda harus bekerja keras dan tidak

                                 memilih-milih pekerjaan dan jujur.