PUSTAKA NAYOTTAMA PUBLISHING  |  Komunitas Riset Massa & Kearifan Lokal, Sosial Budaya & Pencatatan Sejarah & Publikator Indonesia

 




Drs. TJOKORDA GDE RAKA SUKAWATI, EC, MM.

VIBRASIKAN TRI HITA KARANA

DALAM KARYA UNDAGI

 

Setiap zaman mempunyai tokohnya masing-masing, tokoh-tokoh muncul pada momentum yang tepat dan setiap dari mereka kemudian menjadi inspirasi manusia-manusia pada zamannya. Begitulah estafeta perputaran dunia ini selalu ada, tokoh-tokoh yang sengaja dikirim untuk menjadi penggerak pada zamannya dan menginspirasi banyak orang, sebut saja para avatar, perintis, penemu dan pembangun yang selalu kemudian menjadi rujukan dan inspirasi banyak orang pada tiap era.

Bila dicari di Bali, kita dapat menemukan nama Tjokorda Gde Agung Sukawati seorang raja Ubud yang berhasil membangun peradaban madani di tengah arus peralihan zaman pergerakan menuju masa kemerdekaan Indonesia.

Pada masa yang tepat itulah, Tuhan mengirimkannya untuk menciptakan sejarah mewujudkan rencana-Nya sebagai perpanjangan tangan atau salah satu Avatar arsitek-arsitek Tuhan di dunia, untuk sebuah perubahan besar seperti yang terjadi di Ubud Bali.

 

Konon raja Ubud ini hidup dengan visi yang jauh melampaui pemikiran orang-orang pada masa itu. Status sosialnya sebagai raja yang dipuja dan di tinggikan rakyat Ubud tidak menghalanginya mewujudkan mimpi menjadikan desa Ubud bermetamorfosa menjadi desa wisata.

Dialah yang memberikan ruang tinggal di Ubud bagi pelukis-pelukis besar seperti Walter Spiece, Bonnet, Arie Smit dan juga Blanco. Ia juga yang melahirkan seniman-seniman besar di Bali hingga mendunia berkat perkumpulan Pita Maha yang dibidaninya untuk mengasah talent seniman berbakat Bali dalam mengenal warna dan perspektif hingga gaya lukis tradisional Bali berkembang pesat dan Ubud menjelma menjadi desa seni.

Dia juga satu-satunya raja waktu itu yang dengan gagah membuka pintu Puri (kediaman raja Bali) yang sakral dan agung untuk dijadikan penginapan bagi para wisatawan dan pelancong mancanegara yang tengah berkunjung menikmati wisata alam dan seni di Ubud.

 

Sebagai raja Tjokorda Gde Agung Sukawati menorehkan kerja besar dan melahirkan sejarah yang melegenda hingga kini. Ia lahir dan hidup seolah memang untuk meletakkan pondasi nuansa baru di Ubud, ia bukan saja mempersiapkan rakyatnya untuk menangkap peluang derasnya gelombang arus pariwisata, namun juga membuatkan thema, jalur dan wadah bagi masuknya arus itu ke desa Ubud, seolah ia telah melihat bahwa pasca Indonesia merdeka Bali akan menjadi primadona pariwisata yang Ubud harus tampil dalam peran dengan daya tarik khusus berbasis alam dan budaya.

 

Berkatnya, kini Bali memiliki Ubud yang menjadi pusat seni di mata dunia, bahkan sepeninggalnyapun, Tjokorda Gde Agung Sukawati tetap hidup menjadi ispirasi banyak orang, tak sedikit penelitian, buku dan media yang menggali dan menulis perjalanan hidup sang raja sekedar untuk menggugah kesadaran para pemimpin dan orang-orang visioner lainnya untuk melangkah dan meniru keberaniannya membawa perubahan dan menciptakan sejarah memperbaiki zaman.

 

Fenomena avatar ini tak kemudian berakhir di Ubud dan generasi Tjokorda Gde Agung Sukawati pun tak lalu larut dalam nama besar dan bayang bayang ayahnya raja besar si pembuat sejarah.  Mereka para pangeran yang melanjutkan tahta kepemimpinan dalam tatanan tradisi masyarakat Ubud, melecut dirinya membangun karir dan karya.

 

Tak diduga setelah sekian lama waktu berselang dan Ubud sungguh telah menjelma menjadi desa wisata nan  eksotik dan makmur, sarat dengan kunjungan turis domestik dan mancanegara, padat dengan aktifitas usaha, jual beli kerajinan dan paket wisata, di tengah perlombaan pembangunan hotel dan villa, sosok penggugah itu kemudian muncul kembali seolah datang untuk mengembalikan struktur tatanan moral yang tergeser jauh terseret gesekan budaya dan kebuasan perburuan nilai matrialistis melindas kebutuhan harmoni ruang alam dan rasio spiritual.

 

Sosok kali inipun juga berasal dari balik dinding istana “Puri Ubud”, Drs. Tjokorda Gde Raka Sukawati, Ec, MM putra bungsu raja Ubud ‘Tjokorda Gde Agung Sukawati’ dalam pernikahannya bersama ‘Anak Agung Rai’ inilah yang kemudian muncul mendengungkan kembali filosofi trilogi Tri Hita Karana dan berhasil menggugah kesadaran banyak manusia.

 

Tjok De begitu keluarga puri akrab memanggilnya, tidak menyerukan restorasi krisis degradasi kultural dengan mengenakan atributnya sebagai bangsawan Puri Ubud, ataupun posisinya sebagai pengusaha sukses, maupun kebisaannya sebagai dosen di Universitas Udayana. Tapi ia justru menyentuh kesadaran masyarakat dengan menjelmakan diri sebagai seorang undagi.

Tjok De sebagai pangeran yang disegani, seakan tak terkekang oleh status kastanya, ia bahkan dengan santun tampil begitu saja menjadi undagi,  seorang yang secara fisik nyata bergelut dengan tatah, palu dan aktifitas kerja rancang bangun tradisional Bali.

 

Di Bali sendiri, seorang ‘Undagi’ pada dasarnya adalah manusia utama yang diyakini mampu memahami seni, komposisi, proporsi, teknis, ‘rasa’ ruang, dogma religius, tradisi adat atau awig-awig serta selalu mengawali aktivitas kerjanya dengan menjalin komunikasi dengan alam untuk menjaga keseimbangan harmonisasi di mana hal tersebut menjadi bagian dalam proses perancangan dan penciptaan karya bangunan untuk mencapai selaras sebagaimana dimaksud konsep Tri Hita Karana,  bahkan sepatutnya seorang undagi juga memahami puja mantra mengingat setiap tahap laku dalam pembangunan sarat dengan prosesi keagamaan, baik saat memulai pekerjaan dengan upacara Ngeruak Karang, hingga di saat pelaksanaan sampai peresmian bangunan yang ditandai dengan upacara Pamelaspas, sebagaimana tersurat di berbagai lontar, antara lain: Asta Bhumi, Asta Kosala-Kosali dan berbagai lontar tentang tata cara pelaksanaan upacara pada bangunan.

 

Di zaman ini langka sudah dijumpai undagi yang masih hidup dengan prinsip tradisi dan budayanya dalam berkarya terlepas dari batasan-batasan material yang biasa dijadikan alasan pembenaran untuk mengabaikan kesakralan tradisi. Di balik kelangkaan sosok undagi, itulah Tjok De yang begitu muda sontak mencengangkan ribuan mata dengan berbagai karya rancang bangun yang ia buat dengan prinsip-prinsip kearifan lokal yang diwujudkannya sebagai aktualisasi tradisi dan budaya Bali tanpa terpaku pada fanatisme aturan baku Ilmu ukur dan perhitungan arsitektur modern. Dalam bekerja sebagai undagi Tjok De mengandalkan pengetahuan rasa dan komunikasi batinnya dengan alam dan Ida Sang Pencipta seperti yang diadopsinya dari filosofi Tri Hita Karana.

 

Hingga saat ini karyanya tampak di beberapa bagunan, pura, ‘bade’/prasarana upacara ngaben dan lain sebagainya termasuk ‘tapel/topeng rupa barong’ yang banyak di pakai Pura di Bali bahkan hingga terdapat di beberapa Pura di Jepang.

Namun sosok Tjok De yang dikenal sebagai seorang maestro tapel barong dan rancang bangun Bali ini tidak memperjual belikan karyanya, ia bekerja mengandalkan rasa ketulusan, karyanya yang tak ternilai banyak terlihat di berbagai pura sebagai persembahan ngayahnya di luar simpul kalkulasi bisnis.


Bila dicermati Tjok De yang muncul dalam perannya sebagai undagi seolah tengah berbagi pencerahan pikir, menggugah rasa mawas,  menunjukkan bukti-bukti bahwa trilogi Tri Hita Karana memiliki daya multi efek yang menimbulkan vibrasi keseluruh hal positif yang diharapkan manusia. Ia berupaya mengembalikan tatanan laku dan landasan pikir orang-orang untuk ber Tri Hita Karana.

Bali sendiri sejak lampau telah mengenal trilogi, Tri Hita Karana yang menempatkan persamaan manusia dan alam sebagai satu kesatuan ciptaan Tuhan.

Orang Bali memiliki tradisi penghormatan terhadap alam, termasuk di dalamnya manusia membina hubungan harmonis dengan keberadaan hewan dan tanaman sebagai sebuah keselarasan dalam kebersamaan di muka bumi ini.

Tradisi inilah yang juga disiratkan di dalam Tri Hita Karana di mana keseimbangan hubungan Manusia  dengan Alam, Manusia dengan sesamanya dan Manusia dengan Tuhan secara harfiah adalah sebuah kepentingan dinamisasi keseimbangan dalam roda kehidupan.

Tiga kearifan lokal itu yang kemudian diyakini sebagai inti dari lahirnya kedamaian di segala aspek kehidupan masyarakat Bali dan digunakan sebagai pakem tradisi di berbagai sektor termasuk di dalam dunia rancang bangun dan arsitektur Bali.

 

Mereka yang terkagum akan karyanya sudah dapat dipastikan tersentuh oleh vibrasi dari olah karya dan rasa aktualisasi dari Tri Hita Karana. Seperti terlihat saat upacara palebon beberapa tokoh puri, Bade, Lembu dan Naga Banda karya Tjok De yang dikerjakan dengan perasaan tulus, dari bahan-bahan yang diambil dari alam mengikuti aturan dan perlakuan yang semestinya setelah rampung pada perwujudannya, secara alami mampu menimbulkan vibrasi positif, mengundang perhatian dari segala penjuru kendati tanpa melalui proses promosi atau pewartaan, juga memunculkan kesan kekaguman, rasa antusiasme pengunjung seolah tengah menjadi bagian dari sebuah peristiwa bersejarah dan yang paling utama adalah kharisma nuansa sakral dan religius tetap melekat kuat menandakan maksud tujuan karya itu dibuat tepat pada fungsinya.

 

Sebagai maestro melalui karya-karyanya ber-undagi itulah, Tjok De menarik semakin banyak kesadaran orang merubah prilakunya, mereka menjadi mawas untuk berkepribadian dengan olah rasa Tri Hita Karana. Mereka melihat bukti yang Tjok De pertontonkan secara gamblang, hanya dengan menjaga keselarasan harmoni seperti ajaran Tri Hita Karana, apapun bentuk produk, karya, maupun usaha yang dihasilkan akan dengan sendirinya mengeluarkan vibrasi ke segala aspek positif menjadi magnet yang sangat kuat. 

 

Segala kisah cikal bakal munculnya sang penggugah sebagai maestro rancang bangun tradisional Bali ini tidak dapat terlepas dari rangkaian riwayat hidupnya yang ditandai sebagai awal proses metamorfosis seorang pangeran menjadi undagi di balik kemegahan dinding Puri Ubud yang mendewasakannya.

Kisah ini bermula pada kisaran tahun 1978, di saat ‘Tjok De’ berhasil menuntaskan pendidikan menengah atasnya di SMA Swastiastu, Denpasar.

 

Tidak berbeda dengan saudaranya yang lain, ayahnyapun kemudian mempersiapkan arah pendidikan lanjutan bagi Tjok De ke sebuah Universitas di Amerika.

Memang kendati seorang putra raja yang dibekali kebendaan, namun berulang kali ‘Tjok De’ juga dimatangkan oleh wejangan ayahnya bahwa pendidikan menjadi hal utama yang harus ditempuh, sedangkan mendapat pekerjaan tetap, adalah sesuatu yang penting yang sepantasnya dimiliki walaupun secara materi kebutuhan itu telah tercukupi dari wirausaha pribadi. 

 

Menjelang keberangkatannya ke Amerika, kondisi kesehatan ayahnya terus menurun dalam usia 68 tahun, bahkan harus menjalani pengobatan ke Surabaya, Jawa Timur. Namun dalam sakitnya itu, demi membesarkan hati ‘Tjok De’ untuk berangkat ke Amerika, tubuh sakit raja Ubud ini berusaha tampil sehat bahkan melakukan gerakan senam ringan agar putra bungsunya yakin bahwa beliau dalam keadaan baik dan tidak mengkhawatirkan untuk ditinggal.

Atas desakan ayahnya yang terus menerus, dengan berat hati ‘Tjok De’ akhirnya berangkat menuju Jakarta untuk bersiap terbang menuju Amerika didampingi kakak perempuannya.

Setiba di Jakarta, perasaannya semakin tak menentu, firasat buruk menjadikan niat keberangkatan ke Amerika dengan yakin ia urungkan. Ia langsung mengambil penerbangan menuju ke Bali setelah mendengar kabar bahwa sang ayah sepeninggal Tjok De ke Jakarta meminta keluar dari RS Surabaya dan pulang kembali ke Ubud.

Persis dengan kekhawatirannya, di Ubud Tjok De melihat ‘Tjokorda Gde Agung Sukawati’ ayah yang ia cintai tengah terbaring kritis terbungkus sakit.

 

Beberapa saat kemudian, walau hanya dapat mengintip dari celah jendela, Tjok De berkesempatan menyaksikan ujung usia ayahnya berpulang kembali ke Ida Sang Hyang Pencipta.

Sepeninggal ayahnya, Tjok De bertekad terus melanjutkan pendidikan seperti wasiat mendiang ‘Tjokorda Gde Agung Sukawati’, namun kali ini ia memutuskan untuk meneruskan kuliah di Universitas Udayana mengambil jurusan Fakultas Ekonomi dan dengan tekun manjalaninya hingga tamat di tahun 1984.

Setamat strata 1 ekonomi, Drs. Tjokorda Gde Raka Sukawati, Ec, kembali menunaikan pesan ayahnya untuk mendapat pekerjaan tetap selain wirausaha yang sudah ada di Ubud seperti Hotel Tjampuhan peninggalan ayahnya.

 

Berbagai instansi pemerintahan dan swasta telah bersedia menerima Tjok De bekerja di sana, namun nuraninya memilih untuk mengabdikan ilmu yang ia peroleh menjadi lebih bermanfaat dengan menswadharmakan diri sebagai guru pengajian untuk berbagi ilmu  sebagai dosen di Universitas Udayana dan mengajar di jurusan fakultas Ekonomi di sana. 

Setahun kemudian hotel Tjampuhan yang masih berbentuk penginapan kecil sederhana dengan sekitar 8 kamar mulai bersiap untuk direstorasi dan diperbesar.

Untuk urusan pembenahan dan pembangunan, Tjok De mendapatkan tugas mengurusi seluruh proses rancang bangun  Hotel Tjampuhan.

Di sinilah segalanya bermula, tahap demi tahap pembangunan diikuti dan diperhatikan Tjokorda Gde Raka Sukawati dengan seksama, bahkan terkadang ia turut melibatkan diri terjun membantu pengerjaan langsung di beberapa detail bangunan Hotel Tjampuhan.

Selama pembangunan itulah, Tjok De bebas menumpahkan kreasinya, Hotel Tjampuhan dibangun sebagai kanvas nyata yang dipenuhi sentuhan seni di sana sini.

 

Batu-batu alam disusun menjadi berbagai bentuk, pahatan ukiran tradisional menjadi ornamen artistik dengan tidak lupa menambahkan fasilitas modern perhotelan berupa kolam renang dan pendukung daya penerangan seperti genset disediakan untuk menyempurnakan penampilan hotel yang lalu berdiri menjadi pioneer hotel berkualitas di Ubud berkapasitas 75 kamar.

Sementara di kesempatan yang lain di tengah aktivitas pembangunan itu, tersisa cukup waktu luang untuk Tjok De dapat menyibukkan diri mengakrabi batu padas, memainkan tatah dan palu mengikuti imajinasi membuat sebuah bentuk dan rupa hingga menjadi sebuah karya patung mulai dari bentuk mata, kodok hingga sampai wujud tapel Barong.

Di sinilah dasar aktivitas undagi tak terasa mulai akrab di jalaninya, dan lebih dari itu Tjok De semakin tertarik mempelajari banyak hal tentang rancang bangun tradisional Bali, termasuk pembuatan Bade, Naga Banda,  Lembu dan segala sarana prasarana ngaben atau upacara adat lainnya.


Tidak ada keragu-raguan setiap kali Tjok De berkonsentrasi merampungkan kegiatan sebagai undagi, imajinasinya seolah telah melihat wujud rancangannya dengan jelas, utuh dan sempurna tanpa bantuan denah, gambar desain arsitektur dan hitung-hitungan skala lainnya. Yang ia butuhkan hanya para tenaga pelaksana seperti tukang batu, kayu, struktur dan sangging/tukang ukir yang bekerja satu komando dalam mengikuti instruksinya untuk melahirkan maha karya.

 

Seiring waktu berjalan, hotel Tjampuhan sebagai hunian favorit para tamu tidak lagi mampu membendung debit kebutuhan pariwisata akan tempat inap, tingginya tuntutan pengadaan kamar hotel yang representatif, menggugah minat Tjok De bersaudara untuk berekspansi mendirikan hotel baru. Niatan itu akhirnya mereka realisasikan di sekitar tahun 1991 dengan menyewa sebidang lahan di Tjampuhan Ubud dan membangunnya menjadi sebuah Hotel bersama kakak-kakaknya dan diberi nama Pita Maha Resort and Spa’.

 

Benar saja, ‘Pita Maha’ seketika berkembang pesat membuahkan kesuksesan besar bagi Tjok De sebagai seorang pengusaha bisnis perhotelan.

Namun rupanya keberhasilan Tjokorda Gde Raka Sukawati sebagai entrepreneur tidak dapat mematikan semangatnya untuk terus berkarya. Malahan ia semakin tekun mempertajam naluri, rasa dan bakatnya sebagai seorang undagi dengan banyak merampungkan karya-karya baru termasuk melakukan restorasi pura-pura di Bali yang dianggapnya sebagai investasi spiritual, meniru jejak ayahnya yang gemar melakukan perjalanan religius memperbaiki pura-pura di berbagai tempat sebelum beliau meninggal dan kini secara estafet diteruskan ke empat putra-putrinya; Tjokorda Istri Sriatun Sukawati, Tjokorda Gde Putra Sukawati, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati dan Tjokorda Gde Raka Sukawati.

 

Dedikasi spiritual itu rupanya terus menjadi sebuah tradisi yang dilanggengkan oleh Tjok De di antara aktivitas bisnisnya. Sebagai seorang pengusaha ia bahkan mampu mempertahankan kearifan batin keluar dari pergumulan naluri seorang pengusaha yang berorientasi pada keuntungan ekonomi yang pragmatis dengan naluri sosial untuk bersumbangsih dharma yang tak ubahnya dengan konsep keseimbangan bisnis dan spiritual.

Sosoknya sebagai undagi adalah bagian dari sisi dharma spiritualnya, namun bila kemudian ia dibaiat menjadi seorang maestro dalam kiprahnya sebagai undagi, hal itu adalah penghargaan dan penilaian penikmat seni terhadap karya-karyanya dan ini juga merupakan salah satu contoh dari dampak dari vibrasi yang timbul dari olah karya atas dasar Tri Hita Karana.

 

Tanpa berharap penilaian atau menebar pengaruh, Tjok De melakoni dharma spiritualnya secara konsisten, ia kembali terlihat mengaturang karya besar, karyan perdanan  memugar Pura Gunung Lebah yang terletak di delta sungai Uos dan membangunnya kembali menjadi lebih besar pada tanggal 23 Oktober tahun 1991, Utama mandala pura tersebut yang pada sisi kanan kirinya diapit oleh jurang dan sungai Uos, diperluas ke arah barat dengan menggunakan struktur plat beton selebar 13 meter. Dan agar sukat pura tetap seperti sebelumnya, berdasarkan aturan tradisional sesuai lontar Asta Bumi, daerah perluasan pura di barat lebih rendah dari existing site yang ada, demikian pula posisi paduraksa di sudut barat daya dan barat laut yang tetap dipertahankan, hingga secara utuh pura Gunung Lebah rampung pada akhir tahun 1991 dan menyisakan kepuasan tak terhingga bagi Tjok De sebagai undaginya.

 

Dilain pihak, Tjok De sebagai pengusaha bisnis akomodasi yang humanis, ternyata talah lama mempersiapkan untuk membuat sebuah kawasan resort yang mampu menjadi masterpiece sebuah bangunan megah yang secara penuh mengadopsi filosofi Tri Hita Karana.

Jiwa idealismenya sebagai undagi akhirnya berhasil ia sinergikan dengan profesionalitasnya sebagai pengusaha. Proses kolaborasi sang maestro ini dimulai dengan membangun hotel 100 kamar dengan 100 kolam renang di atas tanah pribadi yang berupa kawasan perbukitan di desa Kedewatan Ubud yang beberapa tahun sebelumnya ia beli sebagai investasi.

Seluruh areal itu seketika menjadi tempat  berlaga menumpahkan seni undaginya di awal tahun 1999, dengan menata bukit-bukit dan mempersolek alam, tangan trampilnya mendesain tata letak bangunan resortnya tampil begitu cantik, seolah bukit tengah memeluk sebuah perhotelan yang megah bernuansa Bali yang kaya ornamen ukir dan pahatan-pahatan artistik yang mengagumkan.

 

Sebagai undagi kontemporer berwawasan modern, untuk mendukung prosesinya mencipta sebuah seni rancang bangun spektakuler ini, Tjok De membeli segala macam teknologi alat berat untuk melancarkan proses pembangunan hotel bertaraf bintang yang sedikitnya melibatkan lebih dari 250 orang tenaga kerja.


Ini bukan hanya perihal mendirikan sebuah bangunan, bukan hanya membuat ukiran ataupun pahatan, namun lebih berharga dari itu semua. Setiap etos karya dikerjakan dengan berkukuh pada ajaran Tri Hita Karana, semua mengandalkan olah rasa untuk menghasilkan karya yang ber ‘Taksu’, menebarkan aura kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman bagi siapapun yang menghuni, melihat ataupun sekedar melewatinya.

Seluruh pekerja harus melakukan tugas dan fungsinya dengan hati gembira perasaan damai kala bekerja, karena aura kebahagiaan itu akan membuahkan hasil karya adiluhung dengan merefleksikan pancaran damai pada penikmatnya. 

Tjok De yakin bahwa satu kebahagiaan akan mengundang datangnya kebahagiaan lainnya yang secara skala dan niskala menjadi rangkaian sebab akibat munculnya taksu kedamaian, suasana ceria dan rasa tentram itu dapat dihadirkan dalam sebuah karya.

 

Al hasil memasuki tahun 2004, maha karya inipun rampung menjadi sebuah hotel ‘The Royal Pita Maha Resort’ yang menyerap sedikitnya 500 orang tenaga kerja di mana hampir separuhnya para tukang dan tenaga buruh bantu pembangunan hotel tersebut yang sebelumnya mendapat pelatihan serius khusus perhotelan selama 2 bulan.

 

Sementara itu, eksotisitas karya Tjok De sebagai undagi dengan gamblang dapat dengan mudah dinikmati di sepanjang areal The Royal Pitamaha Resort, semua orang dapat dengan mudah merasakan vibrasi dari apa yang disebut taksu, dari sanalah satu persatu manusia dari seluruh dunia mulai ingin mengenal Tri Hita Karana, pengaruh dan daya tariknya secara nyata mampu dirasakan, tanpa harus berpanjang lebar menjabarkan dengan kata-kata.

Dari sanalah, keberadaan Tjok De sebagai pengugah mulai dirasakan kalangan luas, konsep Tri Hita Karana kembali diperbincangkan dan bahkan ditelaah atas pengaruh karya Tjok De yang mengajarkan filosofi Tri Hita Karana dalam wujud mahakarya. “Mereka bersentuhan langsung dengan taksu itu, taksu yang merupakan vibrasi dari Tri Hita Karana”.

 

Sosok Tjok De mendadak muncul di tengah carut marutnya idividualisme kompetisi ekonomi di desa Ubud yang disulap gemerlap oleh gairah pariwisata, ia tidak melakukan orasi dan regulasi peraturan untuk mengajak semua kalangan kembali menjaga harmoni keselarasan desa Ubud, namun ia menggungah rasa masyarakatnya melalui cara yang berbeda.

Ia meletakkan predikat kebangsawanannya dengan menyandang status undagi,  berbagai karya besar yang menarik perhatian dunia ia kerjakan dari kedua tangannya sendiri tanpa canggung berbaur dengan para pengrajin dan pekerja dari pelosok Ubud seperti saat pengerjaan berbagai perlengkapan upacara termasuk naga banda, lembu dan bade dalam palebon keluarga Puri Ubud; baik dalam palebon ‘Tjokorda Agung Suyasa, palebon ‘Anak Agung Rai’ dan juga palebon Tjok Wim yang berlangusng di bulan Mei 2013 yang kesemuanya menarik antusias puluhan ribu wisatawan yang membanjiri Ubud dan diliput berbagai media dari dalam dan luar negeri.

 

Caranya ini berhasil menggugah masyarakat Ubud, melihat fakta kedasyatan pengaruh Tri Hita Karana, Melibatkan ketulusuan, harmoni manusia, alam dan Sang Pencipta menghasilkan daya tarik, kemegahan dan kesan yang luar biasa.

Bahkan selain mengundang decak kagum dunia, karena karya-karya spektakulernya, Tjokorda Gde Raka Sukawati dianugrahi penghargaan ‘Seni Dharma Kusuma’ oleh Gubernur  Bali, pada kamis, 14 Agustus 2008 atas dedikasinya sebagai undagi bade, topeng Barong, Pura (pelinggih) Lembu dan patung tradisional Bali.

 

Rasa kekaguman lain datang dari Miss Universe 2008, Dayana Mendoza saat menyambangi Ubud didampingi Putri Indonesia dan Putri Bali sebagaimana kunjungan Miss Universe di tahun-tahun sebelumnya ke Royal Pita Maha Ubud. Lain dari itu tak sedikit pemimpin negara dan tamu-tamu penting kenegaraan yang secara khusus menyampaikan kekaguman dan belajar mengenal Tri Hita Karana.

Sementara masyarakat Ubud sendiri, khususnya para pendatangpun mulai terinspirasi, mereka mawas pada kearifan lokal ajaran Tri Hita Karana. Kesadarannya terlihat mulai hidup dalam masyarakat Ubud modern, tolok ukurnya tampak dari antusiasme berbagai kalangan untuk terlibat membangun hubungan antar sesama dan lingkungan padahal semula mereka cenderung acuh dan individu.

 

Kesadaran inipun semakin menguat, dengan makin banyak masyarakat terinspirasi menjalankan konsep Tri Hita Karana, dalam tiap bidang yang mereka geluti. Bila semakin banyak manusia yang tergugah melakoni hidup berlandasan Tri Hita Karana, maka inspirasi yang ditularkan melalui karya Tjokorda Gde Raka Sukawati diharapkan akan menjadikan alam dan tradisi Bali jauh lebih lama bertahan dan mampu terpelihara lestari untuk generasi berikutnya nanti.

 


 


family picture

 


DATA PRIBADI

 

 

Nama               Tjokorda Gde Raka Sukawati, Ec, MM

Tempat /

Tanggal Lahir   :  Ubud, 16 Juli 1960

Agama             : Hindu

Pekerjaan        :  -Dosen Fakultas Ekonomi UNUD

      -Pengusaha The Royal Pita Maha Resort

      -Undagi

Alamat             :  Desa Kedewatan Ubud

Istri                  : Dra. Tjokorda Istri Nilawati

Anak                :  1 orang

Hobby /

Warna Favorit  : Merah Muda

Tokoh Idola      : (Ayah) Tjokorda Gde Agung Sukawati