PUSTAKA NAYOTTAMA PUBLISHING  |  Komunitas Riset Massa & Kearifan Lokal, Sosial Budaya & Pencatatan Sejarah & Publikator Indonesia

 















Dr. Ir. Tjokorda Oka Artha Ardhana
Sukawati, Msi
TJOK ACE

CENDIKIAWAN BALI

MEMBANGUN NEGERI

 

Di belantara desa Ubud, sekitar seratus tahun yang lalu, dibalik kemegahan dinding Puri Ubud tersebutlah Tjokorda Putra Sukawati, sosok seniman tari ternama yang juga putra sulung Ida Tjokorda Gede Sukawati, Raja Ubud yang berthahta di saat itu.

Konon kisahnya, dari ke sembilan putra-putrinya, putra sulungnyalah yang paling sang raja sayangi. Hingga di suatu ketika di saat si penari kondang ini meninggal tidak seorangpun berani menyampaikan berita duka ini kepada sang paduka raja.

Di zaman itu pula, tujuh tahun sebelum Raja mangkat, tepatnya di tahun 1910, lahirlah Tjokorda Gde Agung Sukawati, putra bungsu raja yang kemudian meneruskan tahta kepemimpinan Puri Ubud.

Dari sinilah awal kisah itu bermula, beberapa masa dan tahun berlalu, melalui beribu kisah dan perjalanan, Tjokorda Gde Agung Sukawati beranjak dewasa dan kemudian mempersunting Anak Agung Rai Bumbungan sebagai istrinya yang ketiga.

Sebelumnya, Tjokorda Gde Agung Sukawati telah memiliki istri yang antara lain adalah Anak Agung Rai Mengwi, di mana dari pernikahan ini beliau tidak memiliki keturunan, dan kemudian menikah lagi yang kedua kalinya dengan Anak Agung Made Agung dan memiliki seorang putri saja.

Baru dalam pernikahan bersama Anak Agung Rai Bumbungan itulah Tjokorda Gde Agung Sukawati dikaruniai tiga generasi laki-laki di mana kemudian melalui bahasa niskala tersebutlah bahwa anak ke dua di antara ketiga anak mereka adalah sosok tumitis Tjokorda Putra Sukawati, sang penari yang juga kakak sulung dari  Tjokorda Gde Agung Sukawati.

Cerita-cerita ketenaran dan kehebatan Tjokorda Putra dalam bidang menari semasa hidupnya sudah sangat akrab terdengar. Hal itulah yang membuat hati Tjokorda Gde Agung Sukawati begitu senang dan berupaya membangkitkan bakat bawaan yang bersemayam secara niskala ditubuh Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, putranya yang akrab dipanggil Tjok Ace sejak masih kanak-kanak.

Sebagai seorang ayah, Tjokorda Gde Agung Sukawati memandang perlu untuk memanggil penari-penari kondang dari segala pelosok daerah demi untuk mengajar menari Tjok Ace yang baru berumur 5 tahun.

Namun meski dari belia telah digembleng dengan berbagai guru tari, Tjok Ace tidak juga menampakkan kebisaannya menari.

Guru berganti guru dan bermacam metode cara pengajaran coba dilakukan, namun tidak membuahkan hasil sesuai yang diharapkan, Tjok Ace justru cenderung tertarik pada dunia lukis dan hal-hal kreatif mengotak-atik sesuatu hingga menjadi mainan inovatif masa itu.

Secara alami Tjok Ace jelas lebih menampakkan bakatnya Di bidang teknik dan gambar, dan mungkin itu sebabnya selain kekagumannya pada sosok sang ayah, ia diam-diam juga menaruh simpati pada figur Ir.Soekarno, Presiden pertama Indonesia.

Khayalan kanak-kanaknya acap disinggahi keinginannya menjadi Insinyur. Ia ingin pintar membangun seperti pak Karno.

Sebuah hayalan yang bisa jadi bukan sekedar isapan jempol belaka, kelak di kemudian hari siapa tahu kepintarannya menggambar dan daya tanggapnya yang kreatif bisa menjadi modalnya untuk menjemput tekadnnya jadi seorang arsitek seperti halnya Ir.Soekarno.

Mungkin hal itu jugalah yang mendorong ketertarikannya dalam bidang teknik semakin hari semakin menonjol.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar di SD 3 Ubud, Tjok Ace memang terlihat jauh lebih kreatif dibanding teman-temannya, khususnya pada pelajaran prakarya. Ia akan sangat asik bila sedang memikirkan konsep yang akan dibuatnya.

Daya kreasinya yang cerdas itu memang mendapat kebebasan dan dukungan dari ayahnya.

Meskipun sebagai reingkarnasi Tjokorda Putra yang seorang penari, namun Tjok Ace tidak harus jadi penari, ia sama sekali dibebaskan ayahnya untuk menentukan arah cita-citanya sendiri.

Setamat SD, Tjok Ace berpisah dengan ayah ibunya untuk melanjutkan sekolah di SMP Swastiastu Denpasar. Di sana ia tinggal bersama kakak mertuanya yang telah terlebih dahulu merantau dan juga bersekolah pada sekolah yang sama.

Di dalam rumah itupula sedikitnya 12 pemuda Ubud yang bersekolah di Denpasar turut ditampung tinggal bersamanya, maka jadilah sebuah komunitas kecil di mana Tjok Ace terlatih untuk tetap mandiri, membina kerukunan serta kebersamaan dan terdidik untuk melakoni hidup bermasyarakat.

Sekelumit kenangan manis masih tergambar dalam ingatannya, kala itu meski ia telah merantau di Denpasar, namun dalam benaknya, rasa aman, perhatian dan kasih sayang ayahnya tidak pernah luntur ia rasakan. Tidak jarang tiba-tiba ayahnya datang dari Ubud hanya untuk sekedar membawakan nasi goreng. Sebuah kejadian yang memang tampak sederhana, namun saat-saat demikianlah yang sampai saat ini menghangatkan kilas kenangannya pada sang ayah yang ia sadari penuh dengan kasih sayang dan perhatian.

Satu tahun duduk di bangku kelas 1 SMP, akhirnya masa penerimaan rapornya tiba, dan Tjok Ace naik ke kelas dua. Di saat itulah untuk mengisi waktu liburan sekolah ia dikirim ayahnya pergi berlibur ke Australia. Tanpa menaruh curiga, Tjok Ace pun berangkat memenuhi masa liburannya di negeri Kanguru. Tepatnya di kota Sydney yang penuh kerlap-kerlip, megah dan mengagumkan, sebuah kota besar di Australia yang terletak di tengah-tengah teluk terbesar di dunia yang juga merupakan kota yang memiliki pelabuhan alam yang paling sempurna.

Tinggallah Tjok Ace di Australia bersama salah satu keluarga di sana, namun belum lagi liburannya usai, ia pun menyadari bahwa dirinya tidak dibekali tiket kembali pulang ke Bali dan itu artinya keberadannya di Sydney Australia bukanlah semata-mata untuk berlibur saja, melainkan jelas dikirim untuk kepentingan sekolah.

Apa boleh buat, ia pun tidak bisa mengelak dari apa yang semestinya telah ditentukan ayahnya. Apalagi sang ayah menegaskan apabila ia tidak dapat lulus dari sekolah bahasa di Teaching English Laboratory Sydney Australia, maka ia pun tidak diizinkan pulang kembali ke Bali.

Demi untuk kepulangannya ke Bali, Tjok Ace berupaya keras belajar, menguasai bahasa Inggris sebagaimana yang diharapkan ayahnya.

Dalam renungannya ia teringat, sudah sejak lama, bahkan sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ayahnya sudah sering melibatkannya berkomunikasi dengan para tamu asing, namun memang ia menyadari bahwa kemampuannya luar biasa lemah dalam bahasa Inggris, hal ini semakin tampak jelas dalam angka merah di rapor dalam pelajaran bahasa Inggris di kelas 1 SMP.

Hal itulah yang menyulut pemahaman Tjok Ace atas kehendak sang ayah menyekolahkannya di Australia dan mengharuskannya untuk mutlak bisa berbahasa Inggris sebagaimana selalu ditekankan padanya bahwa bahasa itulah yang akan membuka jendela komunikasinya dengan dunia internasional bila kelak ia telah dewasa.

Didikan untuk mulai mengasah nalarpun tidak berhenti hanya sampai pada keharusan mampu berbahasa Inggris, namun di kota Sydney inilah, Tjok Ace diminta sang ayah untuk melihat Bali secara utuh dari luar sana. Dan benarlah di saat itu Tjok Ace kemudian menyadari betapa Bali begitu unik, menarik, indah dan kaya akan budaya. Seketika itulah pancaran kharisma Bali mampu menggugah kesadarannya untuk dapat mampu berbuat sesuatu bagi Bali nantinya, sesuatu yang dapat menjaga terpeliharanya kelestarian, kehakikian dan keagungan citra seni, budaya dan adat Bali.

Satu tahun sudah Tjok Ace mengasah ilmu bahasa di negeri orang, dan hasilnya, iapun berhasil lulus dalam waktu yang terbilang sangat singkat.

Ijazah keberhasilannya lulus dari Teaching English Laboratory Sydney inilah yang menjadi sebuah jembatan bagi Tjok Ace pulang ke tanah air, hingga ia bisa kembali memasuki gerbang pintu Puri Ubud dengan hasil kebisaan berbahasa Inggris yang cukup lumayan serta sebuah pandangan baru dalam perasaan bangga menjadi orang Bali yang berdampak pada ketertarikan lebih dalam untuk mendalami adat dan budaya Bali sebagai wujud tekadnya untuk melestarikan budaya Bali persis sebagaimana perwatakan ayahnya yang juga selalu bangga menjadi orang Bali di manapun beliau berada.

Setibanya di Ubud, Tjok Ace melanjutkan sekolahnya di SMP Kertha Yoga Ubud, dengan tanpa ada sedikitpun tertinggal pelajaran setelah sekolahnya di Australia.

Selama tinggal kembali di Ubud ini, begitu banyak pendidikan dan ajaran adat, pekerti dan norma budaya serta kekhusukan sebagai penganut Hindu ia serap dari perilaku ayahnya.

Tidak jarang Tjok Ace diajak ayahnya berjalan puluhan kilometer untuk sekedar melakukan persembahyangan ke suatu pura.

Aktivitas ini bukan sesekali saja dilakukan mereka, bahkan seakan telah menjadi tradisi untuk mengunjungi pura-pura meski harus naik turun gunung dengan kondisi jalan yang sulit untuk dilalui.

Rutinitas mengunjungi Pura itu seolah sudah menjadi sebuah kebutuhan wajib untuk dilakukan bukan sekedar hanya untuk dapat berdoa saja, namun juga untuk melakukan perbaikan pura-pura yang memerlukan pembenahan atau renovasi.

Demikian seringnya dedikasi moral keagamaan ini ditempa sang ayah langsung dalam benak Tjok Ace, menjadikan nuraninya turut menyatu dan terpanggil untuk senantiasa menjaga, memelihara dan mengunjungi upacara-upacara adat di pura-pura tanpa lagi mengenal jarak dan tempat.

Di masa-masa itulah, di tahun 1963 sebuah pesan sempat Tjok Ace rekam dalam ingatannya, kala itu saat di Semeru-Jawa Timur, ia memperoleh wasiat ayahnya agar kelak membangunkan satu pura untuknya di Semeru. Sebuah pesan yang senantiasa diingat Tjok Ace sebagai amanat penting yang kelak bila dewasa pasti akan dipenuhinya.

Begitu banyak hal yang sepertinya tidak ada habisnya untuk diteladani dari perilaku sang ayah. Semuanya demikian penting untuk ditiru, baik untuk dapat mengikuti amalan ayahnya ataupun sekedar bisa memahami ajaran filosofinya yang kesemuanya ia rasakan begitu berharga sebagai bekal hidup yang telah mulai didasari Tjok Ace di saat usianya menginjak Remaja.

Selulus SMP, Tjok Ace meneruskan pendidikan atasnya di SMA Katolik Swastiastu di kota Denpasar.

Meski kembali merantau, namun sekolahnya di kota Denpasar ini terasa jauh lebih menyenangkan dibanding rantauannya di Sydney Australia.

Maklumlah, karena di Denpasar sewaktu-waktu ia masih bisa melepas rindu pulang ke Puri Ubud atau setidaknya ia masih dapat senantiasa berinteraksi sosial dengan teman-teman dan sanak kerabatnya.

Semasa di sekolah Menengah Atas itulah puncak kreatifitas Tjok Ace semakin menjadi. Dipelajaran Prakarya, Tjok Ace tidak jarang mendapat nilai 10 untuk hasil kreatif yang dibuatnya. Salah satunya pada zaman itu, di saat mainan belum mengenal aroma modern seperti masa kini, Tjok Ace dengan modal akal cerdasnya telah mampu memanfaatkan lentur karet yang digulung sedemikian rupa untuk menjalankan mainan mobil rakitannya.










Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati /

Tjok Ace


Lulus pendidikan SMA, menimbang dan menyadari kemampuannya dan sekaligus menuntaskan keinginannya menjadi Insunyur, Tjok Ace memilih melanjutkan sekolahnya di Fakultas Tekhnik Universitas Udayana.

Namun di masa itulah, di saat mendekati masa akhir kuliahnya, sebuah peristiwa besar terjadi, Tjokorda Gde Agung Sukawati ayahnya meninggal dunia.

Hanya ia seorang yang mendampingi kepergian sosok yang paling dicintainya itu. Kejadian itu seolah telah direncanakan sendiri oleh ayahnya. Detik-detik terakhir sebelum meninggal, ayahnya tidak mengizinkan seorangpun mengirim kabar berita akan sakitnya kepada Tjokorda Gede Putra Sukawati, kakak lelaki tertua Tjok Ace yang tengah sekolah di Swiss. Sedangkan kakak perempuannya diperintah ayahnya untuk mengantar adik bungsunya yang akan sekolah di Amerika ke bandara di Jakarta.

Melihat kondisi sang ayah yang telah sangat kritis, Tjok Ace pun terpaksa dengan sembunyi-sembunyi memanggil kembali kakaknya dan adiknya yang telah sampai di Jakarta untuk mengurungkan keberangkatannya ke Amerika dan pulang ke Ubud.

Meski hanya mengintip dari celah jendela, namun bersyukur, kakak dan adik bungsunya dapat menyaksikan saat-saat terakhir keberadaan ayah mereka di dunia.

Dan tepat pada hari purnama ke Dasa jam 10 pagi, Tjokorda Gde Agung Sukawati menutup lembar usianya.

Sang raja telah wafat dalam usianya ke 68 tahun, meninggal di dalam Puri Ubud Bali sebagaimana yang beliau inginkan semasa hidupnya.

Kepergiannya meninggalkan duka bagi seluruh rakyatnya, kepergiannya meninggalkan kenangan akan pengabdian dan jasa-jasanya bagi lahirnya dunia pariwisata di Ubud.

Kepergiannya meninggalkan jasa atas kesejahteraan abadi bagi rakyat Ubud dan Bali sebagaimana telah ia rintis sepanjang beliau menjalani swadharma hidupnya sebagai seorang raja.

Setelah semua putra-putri tiba di Ubud dan sesuai jadwal yang telah ditentukan, maka segeralah diadakan upacara Palebon (Ngaben) mengantar kepergian sang Raja menghadap Ida Hyang Widhi Wasa.

Tidak berselang lama, usia kepergian ayahnya, Tjok Ace wisuda menjadi sarjana Teknik dan memperoleh gelar Insinyurnya.

Saat inilah cita-citanya menjadi seorang insinyur seperti pak Karno terkabul sudah, namun tidak terasa air matanya meleleh membasahi matanya dan bergulir menggores pipi yang mestinya tengah dihiasi senyum kebanggaan.

Semua rasa suka seolah tertahan di hati Tjok Ace kala itu, ia merasa ada sesuatu yang kurang dalam upacara keberhasilannya ini, ada sesuatu yang hilang yang seharusnya menemaninya dalam perayaan wisuda sarjananya.

Sesuatu akan kehadiran sosok ayahnya yang ia harapkan mendampinginya, sebagaimana wisudawan kaian yang didampingi orang tua mereka dalam suasana gembira.

Apapun rasa di dalam hatinya, namun kemudian segalanya Tjok Ace terima dengan lapang dada, hatinya mesti tegar dalam menjemput lakon barunya sebagai insinyur. Sebuah lakon yang diperankannya untuk dapat membangun seperti cita-citanya.

Dalam meniti karirnya sebagai insinyur inilah Tjok Ace kemudian melanjutkan mengelola usaha kontraktornya yang sesungguhnya telah mulai ia dirikan sejak masih duduk di semester dua perkuliahannya dulu.

Di saat masih kuliah di semester dua itu, tepatnya di tahun 1978, Tjok Ace telah berhasil memperoleh kepercayaan menggarap proyek rumah tinggal untuk orang asing dengan nilai kontrak USD $6000 yang di tahun itu jugalah terjadi perubahan kurs dollar yang mengakibatkan ia meraup keuntungan dari dampak perubahan tersebut, hingga mencapai jumlah Rp. 3.000.000,- yang ia wujudkan menjadi sebuah mobil baru, jenis Holden Torana edisi tahun 1978.

Selanjutnya perusahaan kontraktor yang berdiri di Tabanan dan ia beri nama CV. Kori Agung ini juga tercatat sempat menggarap beberapa proyek baik sebagai sub kontraktor ataupun dipercaya sebagai kontraktor yang mengerjakan beberapa proyek pemerintah antara lain pembangunan rumah dinas di Departemen Perhutanan.

Di bidang yang lain, sebuah hotel dengan nama Tjampuhan berkapasitas 18 kamar di kawasan Ubud, ditinggalkan ayahnya untuk dikembangkan dan dikelola oleh Tjok Ace. Akan tetapi di saat itu Tjok Ace masih belum selesai dari studinya, sehingga pengelolaan hotel diserahkan kepada orang yang ia percaya sampai dengan dirinya merasa siap untuk menerima hibah tanggung jawab mengelola  hotel tersebut.

Tibalah saatnya ia kemudian siap untuk terjun kekancah bisnis perhotelan. Maka dengan keyakinannya itu, hotel Tjampuhan ia ambil alih. Kamar hotel yang berkembang menjadi 27 kamar tersebut mulai ia benahi dan tata secara profesional.

Hasilnya perkembangan demi perkembangan terlihat mempercantik penampilan Hotel Tjampuhan hingga seiring waktu berlalu jumlah kamarnya pun bertambah mencapai 70 kamar.

Teringat selalu akan wasiat ayahnya, maka di tahun 1978 dengan tekad bulatnya. Tjok Ace bersama Tjokorda Agung Suyasa (penglingsir Puri Ubud) pergi ke Semeru - Jawa Timur untuk meluluskan permintaan ayahnya membangun puri di sana.

Di lokasi yang lumayan sulit untuk dilalui dan jalanan yang cukup terjal menjadi faktor kendala terbesar untuk mewujudkan obsesi pembangunan pura.

Sesulit apapun itu, pembenahan lokasi guna persiapan pembangunanpun mulai dirintisnya.

Kerja keras yang panjang harus dilewatinya dengan tekun, sampai akhirnya, memasuki tahun 1992, selesailah sudah pembangunan Pura di Semeru sebagaimana diinginkan ayahnya.

Haru, bangga, lega dan bahagia tumpah menjadi satu di dalamnya. Sebuah wasiat dari sosok yang sangat ia cintai telah rampung dan berhasil sempurna ia tunaikan.

Namun sesungguhnya, beberapa waktu sebelum pura di Semeru rampung, Tjok Ace sempat teringat masa kecilnya, di mana kala itu, betapa ayahnya menginginkan ia dapat menari sebagaimana sosok yang tumitis dalam dirinya.

Dari kenangan itulah, Tjok Ace berkeras, untuk menyempurnakan seluruh harapan ayahnya, ia pun berjanji akan menari di saat pura di Semeru berhasil dibangunnya.

Maka tibalah waktu itu, di saat upacara memperingati selesainya pembangunan pura di Semeru, Tjok Ace untuk pertama kalinya menari tarian topeng di atas pentas. Dan ajaibnya, gerak, langkah dan dinamisasinya seolah mengalir begitu saja tanpa keganjilan dan gerak-gerik yang tak perlu, semua sungguh terlihat wajar, seolah Tjok Ace adalah sungguh seorang penari.

Sejak saat itulah, Tjok Ace kemudian kerap membawakan lakon topeng Sidakarya atau Calon Arang sebagai Ratu Gede atau Rangda. Sebuah peran yang tidak sembarang penari Bali bisa lakukan.

Tarian ini di Bali merupakan tarian magis yang menggambarkan tentang keberadaan ilmu gaib yang terkadang sang penari yang membawakannya dapat dikuasai oleh kekuatan gaib yang memasuki alam bawah sadarnya.

Hal inilah yang menyebabkan jarang sekali penari yang mau melakukan tarian ini, karena memang secara nyata, masyarakat Bali sering membuktikan menemui pelakon tarian Calon Arang mendadak sakit, bahkan menemui ajal tanpa sebab usai membawakan perannya.

Namun meskipun Tjok Ace mengetahui begitu besar resiko yang dihadapinya sebagai penari Calon Arang, akan tetapi hingga saat ini, ia belum pernah menolak permohonan dari kalangan manapun yang memerlukan bantuannya untuk mementaskan lakon tersebut, bahkan ia bersedia datang dan memenuhi perlengkapan pentasnya sendiri dengan sukarela.

Bila dipikir dengan nalar, sungguh ini suatu fenomena yang sulit diterima akal sehat. Seorang Tjok Ace dengan begitu saja dan tiba-tiba mampu melakukan tarian dengan lakon yang tidak sembarang penari sanggup membawakannya.

Dalam hitung-hitung perkiraan, mungkin hal ini dapat terjadi karena semua yang dilakukan Tjok Ace senantiasa dilandasi dengan niat ikhlas dan tulus hati untuk ngayah dan beryadnya. Namun bukan tidak mungkin kalau kebisaannya ini juga berkaitan dengan peran dan adanya campur tangan sosok tumitis yang bersemayam di raganya.

Demikian lengkap perjalanan hidup ini ia lalui, hingga sekarang ia berdiri menjadi sosok yang dewasa dengan satu istri bernama Tjokorda Istri Putri Hariyani R, yang dinikahinya tahun 1986 dan telah memberinya dua putra.

Tidak ada yang menjadi ambisi bagi dirinya sendiri kini, ia hanya melakoni swadarma hidupnya di dunia dengan sebaik-baiknya.




Pernikahan Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati/Tjok Ace bersama Tjokorda Istri Putri Hariyani R, tahun 1986



Serangkai lakon kini harus diembannya dalam hidup ini. Lakon di mana ia kini berada di zamannya, di era pembangunan, yang membawa misinya sebagai seorang insinyur, dosen pengajar di Universitas Udayana dan juga pengusaha sekaligus ketua PHRI Bali yang harus senantiasa sigap melakukan kerja bersama menghidupkan denyut Pariwisata.

Di zaman inilah, Tjok Ace yang seorang pengusaha ini masih dengan tekun menimba ilmu pendidikannya, bahkan setelah pendidikan S2 nya,  saat ini Tjok Ace telah berhasil merampungkan pendidikan S3(doktor) UNUD meraih predikat Cum Laude, dengan desertasi berjudul; “Perubahan Spasial Desa Adat Ubud, Kabupaten Gianyar, dalam Era Globalisasi: Sebuah Kajian Budaya”. 

Sisi kontemplatifnya adalah, bagi seorang Tjok Ace dengan aktivitas dari berbagai jabatan profesi dan fungsional di beberapa organisasi penting di Bali, masih tetap berkonsekwen untuk beryadnya, berbagi ilmu dengan mengabdikan diri sebagai staff dan dosen pengajar di UNUD.

Bukan nilai materi yang ia cari sebagai pengajar/dosen di UNUD, namun lebih sebagai wujud kepatuhannya sebagai umat Hindu, menjadi bagian dari Catur Guru dan juga kesungguhannya untuk mengikuti ajaran Dewi Saraswati dalam menyebarkan ilmu pengetahuan sebagai wujud rasa syukur akan kemampuan akal pikiran atas anugrah Sang Pencipta.

Adapun meski kehidupannya sebagai seorang guru ini menjadi rutinitas kesehariannya, namun aspek hidupnya di bidang lain tetap mampu dilakoninya dengan seimbang sebagaimana kegiatannya di bidang ekonomi yang tetap selaras berjalan maju.

Dalam bidang ekonomi inipun, Tjok Ace tidak semata-mata memikirkan dan mengembangkan usahanya sendiri, namun ia terlibat aktif dalam pengembangan dunia pariwisata di Bali yang berdampak langsung pada kepentingan seluruh usaha wisata di pulau Dewata.

Lakon selanjutnya adalah sebuah lakon dalam misinya untuk tetap berada dalam denyut nafas zaman di mana adat dan budaya, agama dan norma masih tetap lestari, terpelihara dalam tatanannya sebagaimana dedikasi sang ayah di masanya yang juga selalu bangga pada jati dirinya sebagai orang Bali.

Rasa itu terus ditumbuhkan dalam nurani dan sikapnya, yang mengedepankan tradisi-tradisi budaya leluhur dalam adat tradisional dan spiritual, meski sebagian orang telah menganggap kuno dan bahkan mulai meninggalkannya.

Adapun yang paling mencolok dari adanya ke-ajegan dari zaman ayahnya dahulu dan seolah zaman itu tiada pernah berganti, adalah karena laku kebiasaan Tjok Ace yang masih kerap melakukan perjalanan berziarah ke pura-pura, untuk bersembahyang dan juga mengadakan restorasi/perbaikan-perbaikan pura yang dianggap kurang terawat dan terabaikan.

Dan lakon kisah swadharma lainnya yang mengesankan adalah manakala Tjok Ace kemudian mampu membangkitkan dan menghidupkan talenta seni tarinya hingga ia seolah berhasil melangkah menembus dinding zaman, bagaikan jelmaan dari sosok penari Tjokorda Putra Sukawati seratus tahun silam, semuanya demikian alami Tjok Ace lakukan untuk yadnya yang tumbuh dari dorongan naruninya yang terdalam.

Kesucian unsur tekad inilah yang mungkin menjadi sebab pribadinya sebagai penari selalu dapat menyatu dalam peran apapun.

Hal ini menjadi sangat nyata bila melihat pagelaran tari khususnya dalam lakon Calon Arang yang bernuansa magis. Dalam drama tari itu, masuknya roh yang mempengaruhi kesadaran manusia (trans) dapat menjadikan perilaku manusia tersebut lepas kendali dan bahkan mampu melakukan sesuatu diluar nalar dan kemampuan manusia biasa.

Beberapa kejadian acap kali terjadi di mana penari dalam keadaan (trans) tidak sadarkan diri atas pengaruh roh jahat, menyerang penari lain. Kondisi ini tidak dapat diperhitungkan ataupun diduga sebelumnya, hanya kepasrahan, keyakinan dan keimananlah yang dapat dilakukan penari dalam melaksanakan lakonnya.    

Karena itulah landasan ketulusan niat untuk ngayah (berbhakti), mempersembahkan dari apa yang ia bisa lakukan, selalu menjadi motivasi awal di saat Tjok Ace menerima peran.









Tjok Ace di tengah group tari dalam salah satu pentasnya
.


Dan mungkin karena itulah, ia selalu terlindungi dari kondisi trans atau pengaruh roh jahat yang akan mengendalikan nalarnya serta dari berbagai serangan dari pihak luar yang bermaksud mencelakakannya.

       Kedewasaan, kematangan dan tingginya rasa mawas seorang Tjok Ace sebagai pemimpin yang menjadi panutan rakyatnya rupanya telah lama menarik perhatian dan sorotan banyak kalangan. Maka tak mengherankan bila di alam reformasi, di tengah membahananya gelora demokrasi yang haus akan sosok pemimpin jujur, pintar dengan multi talenta yang serba bisa, rakyat kemudian berkehendak mencalonkan Tjok Ace sebagai pemimpinnya. Ditambah dengan dukungan sedikitnya 12 Partai Politik, antara laian; Demokrat, PAN, PKB, GOLKAR, PNI PKPB, PNBK, Patrion Pancasila, PDK, Pelopor dan PKPI, mengusung Tjok Ace sebagai Cendikiawan Bali yang juga menguasai seluruh lini bidang keahlian, baik seni, pariwisata, arsitektur dan hubungan internasional, untuk terjun dalam kancah pemilihan Bupati Gianyar periode 2008-2013 dan kemudian berhasil unggul dalam perolehan suara yang langsung menempatkannya menduduki kursi Bupati Gianyar, pasca memenangkan PILKADA langsung pertama di Gianyar 14 Januari 2008.

Dalam kepemimpinan Dr. Ir. Tjok Oka A.A. Sukawati, MSi (Tjok Ace) Kabupaten Gianyar mengalami pembenahan dan peningkatan pembangunan yang pesat. Kabupaten Gianyar dengan 7 kecamatannya dikembangkan menjadi 5 zona antara lain : Gianyar Utara/Zona Utara (melipuiti sebagian Payangan, Sebagian Tegalalang dan Sebagian Tampak Siring), Gianyar Barat /Zona Barat (meliputi Ubud, Sebagian Tegalalang, Sebagian Payangan), Gianyar Tengah/Zona Tengah (meliputi Sebagian Blahbatuh dan Tampak Siring), Gianyar Timur/Zona Timur (meliputi Gianyar, Sebagian Blahbatuh) dan Gianyar Selatan/Zona Selatan (meliputi Sukawati dan sebagian Blahbatuh).

Kelima  Zona tersebut masing-masing potensinya digali dan ditingkatkan untuk saling mendukung dan memenuhi antara zona satu dan zona lainnya. Sehingga dikemudian hari tidak akan dijumpai lagi daeah miskin dan daerah tertinggal diantara daerah lainnya di Kabupaten Gianyar.

Tidak perlu waktu lama Tjok Ace sebagai Bupati Gianyar telah mampu meningkatkan kualitas produksi pertanian, peningkatan pelayanan kesehatan, peningkatan antusiasme di sektor pendidikan dan mengoptimalkan kemajuan sektor pariwisata yang bertdampak pada kemakmuran masyarakat khususnya di Kabupaten Gianyar.


 










Bupati Kabupaten Gianyar

Dr. Ir. Tjok Oka A.A. Sukawati, MSi

(Tjok Ace)


Kiprah cendikiawan Bali ini tentu telah nyata memberi peran dan andil besar dalam pembangunan bukan saja di Kabupaten Gianyar dan Bali, namun juga untuk kejayaan negeri tercinta Indonesia.


family picture

DATA PRIBADI

 

Nama                  : Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati / Tjok Ace

Tempat/

Tanggal Lahir   Puri Ubud, 23 Agustus 1956

Agama               :   Hindu

Profesi                 Bupati Kabupaten Gianyar

Pendidikan Formal :

-   SD 3 Ubud

-   SMP Kertha Yoga Ubud

-   Teaching English Laboratory Sydney Australia

-   SMA Katolik Swastiastu Denpasar

-   Sarjana S1 Fak.Teknik UNUD, jurusan arsitektur

-   Pasca Sarjana S2 Fak Sastra UNUD, jurusan kajian budaya

-   Program Doktor S3, Karya Siswa, Fak. Sastra UNUD, jurusan Kajian budaya

Riwayat Organisasi :

-   Ketua Radio Amatar Indonesia, Kab. Gianyar

-   Sekretaris Yayasan Ratnawata

-   Ketua Yayasan Dharma Husada

-   Ketua PHRI Kab.Gianyar

-   Ketua Pemuda Pancamarga Ubud

-   Wakil Ketua HIPMI Kab.Gianyar

-   Ketua Badan Kepariwisataan, Badan Pertimbangan, Pemerintah Kab.Gianyar

-   Ketua Forum Pengembangan Kawasan Strategis Ubud

-   Anggota Laboratorium Budaya, Fak.Teknik UNUD

-   Ketua Sabawalaka Pedarman Bali

-   Ketua Lembaga Pelestarian Budaya Bali

-   Ketua Forum Penggerak Moral Rekonsiliasi Indonesia

-   Bendahara Ikatan Alumni Arsitektur UNUD

-   Penasehat MPI Bali

-   Ketua PHRI Bali

Riwayat Pekerjaan :

-   (1983 – 1986) Direktur PT.Indosail Sakti (PMA Indonesia – Australia di bidang wisata Bahari)

-   (1984 – 1987) Staff Pengajar (Dosen tidak tetap) Universitas Ngurah Rai – Bali

-   (1986 – sekarang)    Staff Pengajar (Dosen tetap) UNUD

-   (1992 – sekarang)    Komisaris PT. Puri Saren Agung (di bidang Perhotelan)

-   (1998 – sekarang)    Komisaris PT. Prana Dewata Ubud (PMA Indonesia – Jepang, di bidang pariwisata)

-   (2008-2013) Bupati Kabupaten Gianyar

Menikah            :   1986

Nama Istri         :   Tjokorda Istri Putri Hariyani R

Anak                   :    2 orang

-   Tjokorda Gede Dharmaputra Sukawati

-   Tjokorda Bayuputra Sukawati

 

Tokoh Idola     :   Mahatma Gandhi

Semboyan       :   Hidup adalah Yadnya & tidak ada Yadnya yang sia-sia

 

Pesan                :   Isi hidup ini dengan hal-hal yang positif, syukuri apa

                                yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta